Archive for August 12th, 2008

12
Aug

#8. ………

   Posted by: admin    in lamunan

Setelah ngobrol dengan dirinya tadi entah mengapa tiba-tiba aku kangen sama dirinya, dirinya yang dulu, yang mungkin tidak dia sadari menunjukkan secara gamblang padaku bagaimana seharusnya seorang manusia menjalani suatu fase kehidupan. Yang secara perlahan tapi pasti mulai berefek domino pada pemikiran-pemikiranku, setidaknya aku belajar melihat sisi lain untuk menyikapi tingkah organisme kehidupan dan para pelakunya.

Entah, dia tinggal dimana jiwa bebas,optimis dan segala aura positifnya itu. Apa sebenarnya yang membuat segala perubahan besar pada dirinya.. ?

Jinny,begitu biasa dia dipanggil oleh para lelakon lainnya. Seorang wanita luar biasa yang mampu dengan mudah akan menarik mata dan hati para pecandu kaum hawa. Entah kata apa lagi yang cocok dengan dirinya,selain wajah ayu khas wanita jawa, keramahan,kebaikan hati dan tentu saja senyum kenesnya itu, semakin manambah cemerlang aura hidupnya,karenanya aku menyebut dia wanita yang luar biasa. Maka bukan hal yang aneh kalo dengan segera ia menjadi bunga, di desa kecil di kaki Gunung Lawu ini. Sudah tak terhitung berapa jumlah para pecandu hawa yang terbuai mesra dalam pesona aura eksotisme seorang mahakarya dari sang Maha Kuasa.

Ah, kenapa aku jadi menerjemahkan dia, apalah aku, tamatan SD yang hanya seorang penjaga istal kuda di ranch  Pak Arya ini.Tapi meski cuman tamatan SD aku yakin pengetahuanku juga gak akan kalah kok sama sarjana di kota-kota itu. Guruku memang cuman buku-buku bekas anak Pak Arya, tapi aku anggap itu sudah cukup untuk profesiku ini.

Kembali aku duduk termenung di sudut ruangan dengan imajinasi yang entah mengapa menjadi liar dan tak terbataskan, bahkan kalo pun aku utarakan, aku yakin bukan hanya para lelakon kehidupan berakal saja yang berkomentar, mungkin seekor nyamuk yang hinggap di ujung jariku ini pun akan berkomentar sama.

Ketermenungan ini sejenak ingin rasanya aku akhiri, tapi akhirnya tetap saja aku tak kuasa menahan rasa ingin tahuku. Aku tidak tega melihatnya seorang diri mejalani berbagai ritual kehidupan yang semakin lama rasanya semakin mengkungkung naluri alamiahnya. Aku sebenarnya pernah merasa bersalah padanya.Benar-benar merasa bersalah, bahkan mungkin sampai saat ini.

Awal mula nya sederhana, aku membiarkannya masuk ke kandang kuda terbaik di ranch itu, kuda jantan asli dari Australia, yang sudah pasti menjadi kesayangan Pak Arya, bosku.Waktu itu dia berkata kalau hanya ingin sekedar tau rupa kuda terbaik itu, kuda yang menjadi buah bibir di desa kami.Hanya aku dan dia yang tau tentang hal ini.Waktu terus berjalan, hingga sampai dimana aku membiarkan Jinny menunggangi kuda itu meski hanya di sekitar istal, dan anehnya kuda yg biasanya ogah disentuh kalo bukan oleh sang majikan, menjadi penurut, bahkan sangat penurut kalau si Jinny ada di dekatnya, ternyata aura Jinny tidak hanya menyihir lelakon berakal sehat saja tapi bahkan kuda!

Dari kebiasaan nya datang ke ranch inilah aku mulai(lebih) mengenal dirinya, mulai dari sekedar cerita masa kecil sampai kisah cinta tragis dia tumpahkan ke diriku.Aku yang sebelumnya lebih sering berseorang diri tentu saja bahagia dengan ini semua (hey, ingat kan? aku hanya seorang pegawai ranch) dan dia adalah seorang Jinny, luar biasa bukan ? tapi dari situ lah aku tau, bahwa seluarbiasa apa pun, dia tetap seorang wanita.

Akhirnya hal yang paling aku takutkan terjadi, dia mulai jatuh cinta akan kuda jantan itu, istilah Jinny “Terasa aneh hariku kalau tidak melihat sehari saja dia tak berlarian… ” sesaat kemudian, tanpa perlu aku menjelaskan apapun, dia tertunduk lesu.Dia sadar bahwa, ia tidak bisa selamanya begini, tidak akan mungkin dirinya bisa memiliki kuda itu, itu hanya akan menjadi impian semu baginya. Sejenak aku termenung, hilang segala dayaku, meski hanya untuk sekedar membangkitkan ketegaran dalam dirinya yang seperti biasa aku lihat. Tercekat aku di suasana bisu hamparan rumput, di bawah pohon yang mungkin sudah saatnya memakai tongkat ini, tidak ada suara angin, bahkan suara burung yang biasanya berkicau dengan riuh rendah, seakan ingin tidak menggangu suasana sedu di bawahnya, hanya aku,Jinny dan si kuda jantan itu yang ada,tersiram rona merah sang surya yang segera terlelap seakan ikut bersedih.

Sejak saat itu atau entah kapan dan entah apa lagi peristiwa yang terjadi di sekitar si Jinny (karena sejak saat itu dia jadi jarang datang ke tempatku) perlahan tapi pasti aura positif dan segala kebaikannya seakan memudar, tidak seperti dulu. Ia tetap tersenyum, tetap ceria, tetap dengan segala kebaikannya… tapi tetap itu bukan segala yang kukenal saat pertama kali mengenalnya.

Ingin sebenarnya aku menyapanya dan mengajaknya sekedar ngobrol, mecoba membantu meringankan segala beban pikirannya, tapi mungkin aku takut dan malu, entah kenapa… Ingin aku tetap membantah idealismenya yang berpikir bahwa dihadapin sendiri lebih baik dari pada melibatkan orang lain, idealisme yang menurutku sama sekali gak ada gunanya,malah hanya akan menumpuk beban pikiran yang pada akhirnya akan semakin melemahkan seluruh penghuni raga mu itu! Berbagi pikiran tetap bagiku adalah hal yang cukup menolong, mungkin tidak ada solusi, tapi paling tidak beban itu tidak harus dipikul sendiri.

Aku benar-benar merindukan dirinya yang dulu, aku merindukan saat dia mau bercerita tentang apapun tanpa takut aku kan menjadikan nya bahan gosip di pojokan pasar.Aku hanya tidak ingin seseorang yang sempat membuatku merasa hidup kembali menjadi redup,seredup nyala lilin malam ini.

Terima kasih bijaksana, aku hanya berharap sempat mengucapkan kata itu sebelum niatnya yang pernah dia utarakan padaku itu terlaksanakan.

Jangan pernah padamkan mimpi-mimpi dan segala harapan, karena hanya itu alasan yang kita punya untuk melanjutkan sebuah fase kehidupan. 

lamunan malam @ office

Tags: , , , , , , , ,

5278712-1